Melihat Kisah Sukses Google, Apple, Amazon , Alibaba Tidak Baik Untuk Saya

Jangan melihat kisah sukses google, alibaba, amazon, apple dsb jika anda tidak ingin hidup anda rusak.

Ini adalah pendapat saya pribadi, anda boleh setuju dan boleh tidak. Dan jangan cerna mentah mentah judul diatas.

Saya ingin sedikit bercerita tentang perjalanan hidup saya untuk mencari cara bagaimana agar menjadi kaya raya, karena saya terlahir di keluarga miskin dan sejak lahir merasakan miskin.

Saya mencari cari cara menjadi kaya dan akhirnya ketemu lah artikel artikel tentang kisah sukses google, amazon, apple, alibaba yang sangat maju meraup keuntungam yang besat, CEO nya menjadi orang terkaya du dunia.

Tapi saya akhirnya sadar, saya melihat dari perspektif yang salah dan hanya melihay dari sisi sukses dan keberhasilannya, ya karena memang literatur kisah tentang kegagalan kegagalannya jarang dipublish.

Hanya dengan melihat kisah suksesnya saya sendiri menjadi panjang angan angan, wah google hanya berasal dari garasi, facebook cuma berasal dari proyek iseng iseng bikin situs jejaring sosial dalam satu kampus, google hanya project iseng iseng.

Kenyataannya tidak seempuk itu, mereka butuh waktu minimal 10 tahunan untuk mewujudkan itu semua, dan dana yang dikeluarkan poun tidak sedikit, mereka membayar mahal karyawan / pakar pakar terbaik.

Didukung pula lingkungan mereka dan fasilitas mereka di sillicon valley, palo alto dll yang memadahi.

Artikel ini bukan bermaksud untuk pesimis, hanya mencoba realistis. Kisah perjalanan mereka tidak seempuk kisah suksesnya. Dan artikel ini saya buat untuk mengingatkan saya sendiri agat selalu bersukur, tidak usah mengarah profit ribuan dollar perbulan, coba untuk bertahap menghasilkan puluhan dollar saja dulu, jalani saja dulu, besar kecil, sukses gagal itu urusan nanti.

Kita ambil pelajaram dari meme anak kecil yang menaikki anak tangga, urut aja dulu kaki melangkah sesuai urutan, jangan langsung 3 anak tangga sekaligus.

Semoga artikel ini bisa dicerna dengan baik, artikel ini bukan mengajarkan pesimistis hanya berusaha realistis dan mensyukuri apa yang ada saja dulu. dikasi sedikit bersukur jangan langsung mengincar besar mengabaikan step dan proses.


No comments:

Post a Comment